Did You Know? A woodpecker can peck twenty times a second.
RSS Feeds:
Posts
Comments

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit DHF (Dengue Hemorraghic Fever) atau yang lazim disebut DBD (Demam Berdarah Dengue) sudah tersebar luas di dunia, dimana infeksi yang disebabkan oleh virus dengue ini merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian, terutama pada anak dan juga orang dewasa di daerah tropis dan subtropis (WHO, 1986).

Demam Berdarah Dengue masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia. Penyebaran penyakit ini semakin luas dan insidennya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kasus sejak 1996 telah bergeser  dari usia anak- anak ke usia dewasa (Suroso dan Umar, 2000).

Di Indonesia, dengue ringan muncul tahun 1799, sedangkan bentuk penyakit berat baru  tampak pada tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta. Setelah itu, menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia. Letusan besar penyakit ini terjadi tahun 1988 dengan angka insidensi  DBD per 100.000 penduduk sebesar 27, 98 atau sebesar 0, 028 % dari 100. 000 penduduk (Sutaryo, 1991).

Hingga kini DBD selalu mengancam seluruh wilayah Indonesia setiap tahunnya. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat sedikitnya 130 pasien baru DBD setiap harinya di seluruh DKI Jakarta begitu pula provinsi lain yang merupakan daerah endemis. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso yang telah menetapkan status KLB (Kejadian Luar Biasa) sejak 9 April 2007 hingga kini belum dapat memastikan kapan akan dicabut mengingat masih tingginya jumlah penderita yang terus berjatuhan (Dinkes Provinsi DKI Jakarta, 2007).

Manifestasi klinik penyakit DBD bervariasi dari bentuk ringan sampai dengan yang berat dan menyebabkan kematian. Dibutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis serta monitoring perjalanan penyakit agar dapat dilakukan tatalaksana yang tepat dan antisipatif (Mulyono dkk, 2000).

WHO telah memilih manifestasi klinis dan laboratories untuk menghindar dari diagnosis yang berlebih (overdiagnosis) maupun underdiagnosis, lalu menyusun dalam satu kriteria pada tahun 1975, yang direvisi pada tahun 1980 dan 1986 adalah sebagai berikut:

  1. Klinis: Demam tinggi, mendadak dan menetap selama 2 – 7 hari.; Manifestasi perdarahan minimal uji tourniquet positif, disertai  petekie, purpura, ekimosis, epistaksis,hematmesis dan atau melena; Hepatomegali atau pembesaran hati pada semua derajat sakit; Syok ditandai dengan nadi lemah, hipotensi dan kulit teraba dingin.
  2. Laboratoris: Trombositopenia (trombosit ≤ 100.000sel/ mmk darah); Hemokonsentrasi, kenaikan 20 % atau lebih dari nilai hematokrit normal.

Dengan mengetahui berbagai gejala klinis maupun laboratoris    yang dimunculkan penderita, WHO membagi penyakit Demam Berdarah Dengue dalam 4 derajat/ tingkatan: Derajat I, Derajat II,  Derajat III dan Derajat IV.

Limfosit bertanggung jawab terhadap aktivitas immunologi infeksi dengue. Sekitar 75 – 80 % limfosit yang terdapat dalam sirkulasi adalah limfosit T , 10 – 15 % adalah limfosit B dan sisanya adalah sel null. Limfosit T bertanggung jawab atas proses imunitas seluler dan respon immunologi, sedangkan limfosit B berubah menjadi sel yang memproduksi  antibody atas rangsangan yang sesuai. Respon imun oleh antigen dengue  akan mengakibatkan aktivasi limfosit dan kemudian perubahan morfologi limfosit itu sendiri yang dinamakan dengan limfosit bertransformasi dan dikenal dengan istilah limfosit atipik yang dengan prinsip pengecatan Romanowsky berkembang istilahnya menjadi Limfosit Plasma Biru. Limfosit atipik ini dapat dijumpai pada hepatitis, eksantema (penyakit infeksi virus yang mempunyai gejala mirip infeksi virus Dengue) dan pneumonia karena virus serta keadaan alergi yang sistemik (Widmann, 1992).

Limfosit Plasma Biru cukup spesifik untuk Demam Berdarah Dengue karena Limfosit Plasma Biru ini merupakan aktivasi limfosit karena respon imun yang terjadi akibat adanya antigen virus Dengue. Penemuan Limfosit Plasma Biru dalam persentase yang tinggi (20- 50%) pada sediaan apus darah  penderita DHF merupakan suatu hal yang khas karena sangat berbeda dengan persentase Limfosit Plasma Biru sebanyak 0- 10% yang ditemukan pada infeksi virus lain. Dengan demikian jelas pada pemeriksaan laboratorium penderita Demam Berdarah akan terjadi peningkatan LPB yang terjadi akibat virus Dengue (Gatot, 2000).

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ada keterkaitan antara jumlah Limfosit Plasma Biru (LPB) yang muncul pada penyakit Demam Berdarah dengan tingkat keparahan penyakit DBD itu sendiri.

B.    Rumusan Masalah

Apakah terdapat hubungan antara jumlah Limfosit Plasma Biru (LPB) dengan tingkat keparahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSUP DR. Sardjito?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Keterangan:
Skripsi-Tesis yang ada di situs ini adalah contoh dari bagian dalam skripsi atau Tesis saja. Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap dalam format Softcopy hubungi ke nomor HP. 081904051059 atau
Telp.0274-7400200
. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Tulisan terkait:

Tags:

Layanan Pencarian Data dan Penyedia Referensi Skripsi Tesis   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 7400200

pembuatan makalah, judul, proposal, skripsi tesis, disertasi,