Did You Know? Thirty-five percent of the people who use personal ads for dating are already married.
RSS Feeds:
Posts
Comments

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang biasa disebut Dengue Haemorrahagic  Fever (DHF)  merupakan  satu  dari  beberapa  penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di dunia terutama negara berkembang. Di Indonesia, masalah penyakit tersebut muncul pertama kali tahun  1968  di  Surabaya. Belakangan  ini,  masalah  DBD  telah  menjadi masalah klasik yang kejadiannya hampir dipastikan muncul pada tahun terutama pada awal musim penghujan (Depkes, 2005).

Menurut data di Depkes RI (2010), penyakit DBD di Indonesia pada tahun 2008  terdapat  137.469  kasus,  1.187  kasus  diantaranya  meninggal,  CFR (Case Fatality Rate)  sebesar  0,86%.  Pada  tahun  2009  terdapat  154.855 kasus,  1.384  kasus  diantaranya  meninggal,  CFR  (Case  Fatality  Rate) sebesar 0,89%. Pada tahun 2008, di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kasus DBD mencapai 2119 kasus, 21 kasus diantaranya meninggal, CFR sebesar  0,99  dan  pada  tahun 2009  terdapat  2203  kasus,  15  kasus diantaranya meninggal, CFR (Case Fatality Rate) sebesar 0,68%. Wilayah kerja Puskesmas Patuk I merupakan wilayah endemis DBD. Hampir pada tahun ada kasus yang muncul. Data mengenai jumlah kasus DBD sejak tahun 2007 yaitu 6 kasus, tahun 2008 yaitu 1 kasus, tahun 2009 yaitu 2 dan tahun 2010 sampai dengan Nopember tercatat 12 kasus.

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus Dengue yang ditularkan melalui  gigitan  nyamuk  Aedes  sp, dengan  ciri  demam  tinggi  mendadak disertai manifestasi  perdarahan  dan  bertendensi  menimbulkan  renjatan (shock) dan kematian (Ditjen PPM&PL, 2001).

Penyakit tersebut disebabkan oleh Flavivirus yang ditularkan oleh serangga  (arbovirus).  Serangga  yang  menjadi  vektor  penyakit  tersebut adalah Aedes aegypti dan kedua adalah Aedes albopictus. Aedes aegypti dikenal sebagai vektor utama DBD karena inang utamanya (99%) adalah manusia dan kurang dari 1% pada hewan bila inang utama tidak tersedia. Sementara Aedes albopictus mempunyai banyak inang alternatif selain manusia (Supartha, 2008).

Sampai    sekarang   penyakit    DBD   belum    ditemukan    obat    maupun vaksinnya, sehingga satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan memutuskan rantai penularan yaitu dengan pengendalian vektor. Faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue. di antaranya adalah 1. faktor inang (host), 2. lingkungan (environment) dan  3. faktor penular serta 4. patogenitas (virus). Faktor inang menyangkut kerentanan dan imunitasnya terhadap penyakit, sedangkan faktor lingkungan menyangkut kondisi geografi (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin,   kelembaban,   musim),   kondisi   demografi   (kepadatan,   mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk), dan jenis serta kepadatan nyamuk  sebagai  vektor  penular penyakit  tersebut.  Kepadatan  populasi nyamuk  Aedes sp yang diukur melalui kepadatan jentik/larva dan jumlah kontainer sangat nyata pengaruhnya terhadap kasus penularan DBD. (Suwarja, 2007).

Desa Beji adalah salah satu desa di Kecamatan Patuk. Wilayahnya meliputi 6 dusun yaitu Beji, Jelok, Kerjan, Gunungan, Krakalan dan Gedali. Keenam dusun tersebut mencakup 30 RT. Penduduk di Desa Beji menurut hasil pendataan tahun 2011 berjumlah 2752 jiwa terdiri dari 1364 laki-laki dan 1388 perempuan. Tingkat pendidikan penduduk sangat bervariasi, ada yang tidak tamat SD sampai perguruan tinggi. Tingkat pendidikan penduduk yang terbanyak yaitu Tamat SMP yaitu 32%. Sedangkan yang mengenyam bangku perguruan tinggi (diploma dan sarjana) hanya 1%. Tingkat perekonomian penduduk di Desa Beji masih tergolong rendah. Hal ini dapat diketahui dari hasil pendataan petugas PKB Puskesmas Patuk I bahwa 48% rumah tangga masuk dalam kategori Pra Sejahtera dan Sejahtera I. Topografi Desa Beji terdiri dari persawahan, perbukitan dan pegunungan berbatu (75%). Iklim wilayah terdiri dari dua musim yaitu musim kemarau dan musin hujan dengan curah hujan rata-rata 7,762 mm. Rata-rata ketinggian dari permukaan laut 400 m.

Vektor utama penyakit DBD di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti. Tempat yang disukai sebagai tempat perindukannya adalah genangan air yang terdapat dalam wadah (kontainer) tempat penampungan air artifisial misalnya drum, bak mandi, gentong, ember, dan sebagainya; tempat penampungan air alamiah misalnya lubang  pohon,  daun  pisang,  pelepah daun ke ladi, lubang batu; ataupun bukan tempat penampungan air misalnya vas bunga, ban bekas, botol bekas, tempat minum burung dan sebagainya (Soegijanto, 2004).

Hasil survei Departemen Kesehatan RI di 9 kota besar di Indonesia pada tahun 1986-1987 menunjukkan bahwa satu diantara tiga rumah maupun tempat  umum ditempati  jentik  nyamuk  Aedes  sp (Ditjen  Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, 1992). Survey jentik yang dilakukan oleh BBTKL & PPM (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular) Yogyakarta (2006) pada 100 rumah penduduk menunjukkan hasil bahwa indeks dari bulan Mei hingga Juli 2006 mengalami penurunan, HI (House Index) = 46%, 41% dan 22%, CI (Continer Index) = 17%, 11% dan 7%, BI (Breteau Index)  = 99%, 58% dan 32%. Dibandingkan dengan HI,  nilai BI  selalu  lebih  tinggi.  Hal ini memberikan gambaran bahwa pada rumah yang positif jentik/pupa terdapat lebih dari satu kontainer yang positif jentik/pupa. Nilai ABJ dari bulan Mei hingga Juli 2006 berturut-turut sebagai berikut 54%, 59% dan 78%. Ini mengalami peningkatan walaupun masih di bawah standar nasional sebesar 95%. Kontainer yang ditemukan positif jentik/pupa yaitu:   bak  mandi,  pot/vas, drum/gentong/reservoir, penampung air  dispenser, ember, penampung  air kulkas, kaleng/botol bekas/pecahan kaca, tempat minum burung, aquarium dan sumur. Identifikasi ragam spesies nyamuk, dari 40 ekor yang identifikasi, 2  ekor  (5%)  merupakan  spesies  Aedes  albopictus dan  38  ekor  (95%) merupakan Aedes aegypti. (BBTKL PPM Yogyakarta, 2006)

B.  Rumusan Masalah

Berdasar latar belakang tersebut di atas, dapat dirumuskan masalah, yaitu:  “Bagaimana gambaran kepadatan larva nyamuk Aedes sp pada kontainer di dalam dan luar rumah yang berupa bak mandi, bak WC, tempayan,  tampungan air  kulkas,  tampungan air  pada  tirisan  alat  dapur, PAH, tempat minum unggas dan perangkap semut di Desa Beji Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul?”

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Keterangan:
Skripsi-Tesis yang ada di situs ini adalah contoh dari bagian dalam skripsi atau Tesis saja. Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap dalam format Softcopy hubungi ke nomor HP. 081904051059 atau
Telp.0274-7400200
. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Tulisan terkait:

Tags:

Layanan Pencarian Data dan Penyedia Referensi Skripsi Tesis   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 7400200

pembuatan makalah, judul, proposal, skripsi tesis, disertasi,